PPK KECAMATAN JALANCAGAK

Minggu, 11 November 2012

Dede-Laksamana, Pendaftar Ke-2 Calon dari Parpol




Pendaftar kedua dari partai politik dan gabungan parpol pada hari terakhir “pendaftaran bakal pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2013”, Sabtu (10/11), adalah Dede Macan Effendi (Dede Yusuf) dan Lex Laksamana yang diusung parpol gabungan Partai Demokrat dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Amanat Nasional (PAN).  
Petahana wakil gubernur yang berpasangan dengan Lex selaku mantan Sekretaris Daerah Jawa Barat itu, tiba di Sekretariat KPU Jabar Jl. Garut No. 11 Bandung pada pukul 14.45 dengan mengendarai angkot (angkutan kota). Padahal, ratusan pengawalnya yang berseragam FKPPI (Forum Komunikasi Putra Purnawirawan TNI) dan satgas parpol pengusungnya, sudah berjaga-jaga di halaman KPU Jabar sejak siang pukul 13.30.
Didampingi Ketua Partai Demokrat Jawa Barat Iwan Sulanjana, anggota Fraksi Partai Demokrat DPR Max Sopacua, Ketua PKB Jabar Dedi Wahidi, Ketua PAN Jabar Edi Darnadi dan Ketua Partai Gerindra Jabar Oo Sutisna, Dede Yusuf dan Lex langsung mengikuti langkah kaki Ketua KPU Jabar Yayat Hidayat beserta para komisioner lain dan pejabat setempat menuju tempat pendaftaran di aula.
Pasangan yang diusung 4 parpol dengan jumlah seluruh 43 kursi DPRD Jawa Barat ini, oleh Komisioner KPU Jabar merangkap Ketua Pokja Pencalonan, Teten Setiawan, dinyatakan memenuhi persyaratan pendaftaran setelah kelengkapan berkas yang diajukannya diperiksa. Kemudian, pasangan Dede Yusuf dan Lex naik podium untuk menyampaikan visi-misi kepada para wartawan.
Dalam penjelasannya, Dede Yusuf mengungkapkan alasan pakaian yang dikenakannya bersama Lex adalah baju kerja. Ini merupakan simbol bahwa pemimpin Jawa Barat harus bekerja keras, dan harus pula dibantu oleh seluruh lapisan masyarakat dengan semangat bekerja. Karenanya, ia meminta dukungan dan doa restu dari semua pihak atas pencalonannya pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat (Pilgub) 2013.
Ia yang telah 5 tahun menjabat sebagai wakil gubernur, merasa sangat mengetahui etos kerja pasangannya yang sangat berpengalaman di pemerintahan, sehingga secara mudah dapat  mempercepat proses pembangunan Jawa Barat. Soal pembagian kerja, mengingat Lex jauh lebih senior ketimbang dirinya, begitu juga dengan pemikirannya yang lebih matang, maka ia menganggap Lex sebagai sosok yang sangat cocok untuk dijadikan pasangan di Pilgub 2013.
“Visi-misi kami sama. Kami adalah kombinasi yang pas sekali. Beliau punya pengalaman dan pemikiran, ide-ide,  dan saya punya semangat. Jadi, saya beranggapan dalam memimpin Jawa Barat ke depan tidak perlu ada pembagian tugas. Seperti tadi, kami datang ke sini pakai angkot yang dibawa oleh sopir dan kernetnya. Sopir yang mengemudi, dan kernet yang kasih aba-aba kapan berhenti, menaikan penumpang, dan ke arah mana harus belok. Nah, beliau ini adalah navigator,” tutur Dede Yusuf.
Menyinggung istilah babarengan yang sering dilontarkan dalam pencalonannya kali ini, dijelaskan Dede Yusuf sebagai kata yang mengandung arti gotongroyong, kebersamaan, dan memiliki nilai sauyunan yang perlu diterapkan di Jawa Barat yang jumlah penduduknya terbesar dibanding provinsi lain di Indonesia, yaitu 46 juta jiwa, “Konsep inilah yang harus kami hadirkan. Bekerja, tidak bisa kita sendirian, tapi harus bersama-sama rakyat”. (MC/KPUJBR)  

Rieke-Teten Daftar Lebih Dulu ke KPU Jabar





Bakal pasangan calon dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Teten Masduki dan Rieke Diah Pitaloka, sesuai rencana Sabtu (10/11) pagi mendatangi Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jawa Barat (KPU Jabar) untuk mendaftarkan pencalonannya pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat (Pilgub) 2013. Kedatangan mereka dikawal sekitar 400 orang kader PDIP dengan iringan lagu “Halo-halo Bandung” dengan musik tradisional Sisingaan.      
Setibanya di halaman Sekretariat KPU Jabar Jl. Garut No. 11 Bandung tepat pukul 10.10, rombongan yang dipimpin Ketua PDIP Jabar Tubagus Hasanudin itu terlebih dulu melakukan prosesi “serah terima” bakal pasangan cagub dan cawagub yang diusung partainya. Dalam upacara serenan ini, Hasanudin menyerahkan Rieke dan Teten agar kedatangannya diterima oleh KPU Jabar.
Setelah menyampaikan kata penyambutan, Ketua KPU Jabar Yayat Hidayat langsung mempersilahkan dan menuntun Rieke-Teten, yang dalam pencalonan di Pigub 2013 dikenal sebagai pasangan Paten, ke aula tempat pendaftaran. Kepada Rieke-Teten Masduki dan juga jajaran pengurus PDIP Jabar, Komisioner KPU Jabar merangkap Ketua Pokja Pencalonan, Teten Setiawan, menjelaskan masa pendaftaran berlangsung 7 hari dari 4 s/d. 10 November 2012, kemudian membacakan ketentuan pendaftaran bakal cagub dan cawagub sesuai Peraturan KPU Nomor 9/2012.
“Karena hari ini masih mencakup masa pendaftaran, maka kami persilahkan kepada bakal pasangan calon dari PDIP untuk menyerahkan berkas persyaratan dan mengisi buku pendaftaran berikut formulirnya,” kata Teten Setiawan. Selanjutnya, selama 30 menit  ia bersama Sekretaris Pokja Pencalonan, Teppy Dharmawan, memeriksa kelengkapan berkas Rieke-Teten Masduki yang disodorkan Hasanudin.              
Seusai menyampaikan hasil pemeriksaan dengan menyatakan bahwa secara material berkas pendaftarannya memenuhi persyaratan, Rieke-Teten Masduki menuruti pembawa acara yang meminta mereka naik podium untuk memberikan keterangan kepada puluhan wartawan. Rieke, yang namanya mulai terkenal setelah memerankan tokoh Noneng dalam sinetron “Bajaj Bajuri” dan kini sebagai anggota Fraksi PDIP, mengawali pidatonya dengan memperkenalkan diri.
“Nama saya Diah Pitaloka, diambil dari putri Pajajaran yang konon mewakafkan nyawanya demi harga diri Tanah Pasundan, daripada dinjak-injak oleh orang yang ingin menguasai kerajaan Pajajaran. Di sebelah saya adalah Kang Teten Masduki, yang hidupnya dipersembahkan untuk pemberantasan korupsi di tanah air. Kita tahu korupsi itu adalah sumber kemiskinan dan kebodohan rakyat Indonesia, termasuk Jawa Barat,” kata Rieke.
Ia menyebutkan pencalonannya bersama Teten Masduki hanya bermodalkan militansi, memiliki kecintaan, simpati dan empati, dan hanya bermodalkan komitmen kepada rakyat Jawa Barat. Karenanya, ia bersama partainya meminta seluruh pihak agar memberikan bantuan dan dukungan dalam perjuangannya memerdekakan rakyat Jawa Barat dari kemiskinan dan kebodohan.       
Sedangkan Teten Masduki, dalam pidatonya mengakui tidak memiliki pengalaman di dunia politik, apalgi ikut dalam Pilkada, “ Tapi, paling tidak saya tidak pernah korupsi. Saya dan Teh Rieke hanya punya komitmen yang kuat untuk melakukan perubahan besar di pemerintahan. Karena Jawa Barat merupakan provinsi terbesar di Indonesia, yang korupsinya juga terbesar, maka kami akan menjadikan Jawa Barat ini sebagai percontohan nasional dalam gerakan antikorupsi”. (MC/KPUJBR)